VIVAnews - Hampir semua pria kompak menjawab payudara, saat ditanya bagian tubuh wanita yang paling indah. Mereka menyadari itu sebagai kelebihan dan daya tarik seorang wanita.
Penelitian di University of Wellington, Selandia Baru, mengungkap, 47 persen responden pria cenderung menatap ke arah dada sebelum melihat wajah seorang wanita. Tatapan ke bagian payudara ini juga relatif lebih lama daripada ke bagian tubuh lainnya.
Penelitian dilakukan dengan memperlihatkan enam gambar wanita kepada para responden pria. Enam gambar itu menampilkan satu wajah wanita yang sama, namun dengan bentuk dan ukuran tubuh berbeda. Peneliti melakukan rekayasa digital pada bagian payudara, dan lekuk pinggul.
Para peneliti meperhatikan bagian tubuh yang menarik perhatian para responden saat pertama melihat gambar tersebut. Mereka juga memperhatikan durasi tatapan. Kesimpulannya, payudara merupakan objek tubuh wanita yang paling lama ditatap pria.
Tak hanya menunjukkan daya tarik wanita, penelitian itu juga menghasilkan sejumlah kesimpulan menarik terkait tubuh wanita di mata pria.
- Ukuran payudara tidak terlalu penting
Pria cenderung menatap tajam ke arah dada atas dasar alasan nilai seni keindahan tubuh wanita. Mereka tak terlalu mempedulikan ukuran.
- Dandanan wajah dan rambut bukan utama
Tidak sampai 20 persen responden yang tatapan pertamanya mengarah ke wajah saat pertama kali bertemu wanita. Tatapan ke arah wajah dilakukan setelah pandangan ke area dada. Payudara lebih memikat daripada wajah.VIVANEWS
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Minggu, 11 April 2010
Sabtu, 07 Februari 2009
Rusia Bersedia Mengurangi Rudal Nuklir
Rusia bersedia mengurangi persenjataan peluru kendali atau rudal berhulu nuklirnya. Ini sejalan dengan kepentingan nasionalnya jika perundingan dengan Amerika Serikat menyepakati perjanjian baru. Demikian dikatakan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Sabtu (7/2).
"Pada dua setengah tahun terakhir dari pemerintahan AS sebelumnya, kami berusaha mendapatkan reaksi yang jelas terhadap sejumlah usulan kami, untuk memulai membentuk perjanjian baru untuk menggantikan perjanjian START yang berakhir masa berlakunya Desember," kata Lavrov pada televisi Rusia. Lavrov menegaskan, pihaknya siap mengurangi dan membatasi rudal strategis.
Pemerintah Kremlin sejak lama mengharapkan perundingan tersebut untuk menggantikan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis (START). Perjanjian itu adalah tonggak bersejarah pakta perlucutan senjata dalam Perang Dingin antara AS dan Uni Sovyet yang masa berlakunya habis pada akhir tahun ini.
Pada Januari silam, menjelang konfirmasinya sebagai Menteri Luar Negeri AS yang baru, Hillary Rodham Clinton berjanji akan secepat mungkin merundingkan kembali START, yang ditandatangani pada 1991 dan merupakan tahapan bagi pengurangan persenjataan nuklir Amerika dan Rusia. Pemerintah AS sebelumnya tidak goyah mengenai masalah ini, yang memicu perasaan tidak senang bagi Rusia dan menuding bahwa Washington tidak seserius Moskow dalam menangani masalah ini.
"Pada dua setengah tahun terakhir dari pemerintahan AS sebelumnya, kami berusaha mendapatkan reaksi yang jelas terhadap sejumlah usulan kami, untuk memulai membentuk perjanjian baru untuk menggantikan perjanjian START yang berakhir masa berlakunya Desember," kata Lavrov pada televisi Rusia. Lavrov menegaskan, pihaknya siap mengurangi dan membatasi rudal strategis.
Pemerintah Kremlin sejak lama mengharapkan perundingan tersebut untuk menggantikan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis (START). Perjanjian itu adalah tonggak bersejarah pakta perlucutan senjata dalam Perang Dingin antara AS dan Uni Sovyet yang masa berlakunya habis pada akhir tahun ini.
Pada Januari silam, menjelang konfirmasinya sebagai Menteri Luar Negeri AS yang baru, Hillary Rodham Clinton berjanji akan secepat mungkin merundingkan kembali START, yang ditandatangani pada 1991 dan merupakan tahapan bagi pengurangan persenjataan nuklir Amerika dan Rusia. Pemerintah AS sebelumnya tidak goyah mengenai masalah ini, yang memicu perasaan tidak senang bagi Rusia dan menuding bahwa Washington tidak seserius Moskow dalam menangani masalah ini.
Langganan:
Postingan (Atom)