Senin, 16 Februari 2009

Lukisan Kedamaian

Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah

kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman

dan pelukis berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut. Sang Raja

berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan

yang benar-benar paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu di

antara keduanya.

 

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga

itu bagaikan cermin sempurna yang memantulkan kedamaian gunung-gunung yang

menjulang mengitarinya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awanputih

berarak-arak. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah

lukisan terbaik mengenai kedamaian.

 

Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul.

Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan

badai. Sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Di sisi gunung ada air

terjun deras yang berbuih-buih. Sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan

kedamaian. Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik. Di balik air terjun

itu tumbuh semak-semak kecil di atas sela-sela batu. Di dalam semak-semak itu

seekor induk Pipit meletakkan sarangnya. Jadi, di tengah-tengah riuh-rendahnya

air terjun, seekor induk Pipit sedang mengerami telurnya dengan damai.

Benar-benar damai.

 

Lukisan manakah yang memenangkan lomba?

 

Sang Raja memilih lukisan nomor dua. Tahukah anda mengapa?

"Karena",jawab sang Raja, "kedamaian bukan berarti anda harus berada di tempat

yang tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk.

Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski anda berada di tengah-tengah

keributan luar biasa. Kedamaian hati adalah kedamaian sejati"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar